Oleh: rioardi | September 26, 2017

Dr. Suci Sri Utami Atmoko, Peneliti Asal Indonesia ini Terpilih Dalam Daftar Nominasi Indianapolis Prize 2017 Amerika Serikat

Rendah hati dan tidak pelit ilmu, itu adalah salah satu gambaran selama penulis mengenal beliau, beliau salah satu orang yang mengenalkan saya di dunia konservasi. dedikasinya terhadap orangutan sungguh patut dibanggakan, selamat ya buk suci.. semoga menang dan menjadi amanah

14

Indianapolis Zoo, Amerika Serikat telah meliris daftar nominasi penghargaan bergengsi di bidang konservasi satwa, Indianapolis Prize. Dan dari 32 finalis Dr Suci Utami Atmoko adalah satu-satunya perwakilan Indonesia yang masuk dalam daftar nominasi tersebut.
Dr Sri Suci Atmoko, Dosen Biologi Unas yang masuk dalam nominasi Indonesiana Prize 2017
13

Dosen Fakultas Biologi dan Sekolah Pascasarjana Magister Biologi Universitas Nasional itu tergolong aktif melakukan konservasi satwa khususnya orang utan. Penghargaan tersebut ia dapatkan tak lepas dari kiprahnya di bidang konservasi orang utan selama 30 tahun.

Para nominator Indiana Prize tersebut dipilih karena dianggap berpengaruh dan memiliki kontribusi nyata terhadap konservasi fauna. Tidak hanya menyelamatkan spesies fauna, namun juga populasi dan ekosistemnya.

Terpilih dalam daftar nominasi, Dr Suci mengaku sangat senang dan mengapresiasi hal tersebut. Nominasi Indianapolis Prize menjadi bukti semakin diakuinya peneliti-peneliti Indonesia di mata dunia.

“Saya sangat mengapresiasi, karena ini artinya dunia Intenasional mulai melihat peneliti Indonesia. Lebih dari itu, konservasi primata di Indonesia juga semakin bermakna di mata dunia,” ujar Suci, Rabu (13/9/2017).

Presiden dan CEO Indianapolis Zoo, Michael Crowther, dalam siaran persnya mengatakan para finalis Indianapolis Prize 2017 ini adalah para konservasionis yang paling penting dan berprestasi di lapangan saat ini.

Para finalis dinilai tidak hanya dari kiprahnya melindungi satwa, namun juga yang berhasil menciptakan metode konservasi yang sukses untuk menjaga kelangsungan hidup satwa di masa mendatang.

“Kami memuji prestasi mereka dan mengajak masyarakat, organisasi, perusahaan dan pemerintah untuk bergabung bersama-sama mereka untuk melakukan konservasi satwa,” ujar Crow.

Michael juga menyebutkan bahwa para finalis berasal dari berbagai negara dan lintas benua, yang memfokuskan diri pada satwa unik dan menjadi simbol, dari primata, mamalia laut hingga reptil dan burung.

Tahun ini, Indianapolis Prize membawa lebih banyak koleksi penelitian individual dari ekosistem Asia, termasuk satwa-satwa yang populasinya dalam bahaya, seperti orangutan, macan tutul salju, harimau, dan kukang.

Ke-32 finalis nantinya akan diseleksi kembali menjadi 6 pemenang. Dimana pemenang pertama akan mendapatkan utama uang tunai sejumlah 250.000 dolar AS. Sementara itu, lima finalis lainnya masing-masing mendapatkan 10.000 dolar AS.

sumber : Unas.ac.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: