Oleh: rioardi | Februari 22, 2013

Anak Anjing Berkaki Tujuh Lahir di Cilandak

JAKARTA, KOMPAS.com — Seekor anak anjing berkaki tujuh, pekan lalu, lahir di sebuah klinik dokter hewan di kawasan Dapur Susu, Cilandak, Jakarta Selatan.

Anak anjing ras campuran dari induk jenis Mix Pug dan Siberian Husky tersebut merupakan satu dari delapan anak anjing yang berada di dalam kandungan induknya dan berhasil dikeluarkan melalui operasi laparatomi.

“Tujuh ekor anak anjing memiliki tubuh normal. Sementara satu ekor anak anjing memiliki tujuh kaki, yaitu 2 di depan, 4 di belakang, dan 1 di punggung,” kata dokter hewan (drh) C Koesharjono yang menangani persalinan tersebut.

2302264-anjing-620X310

Melalui observasi lebih lanjut, selain keunikan tujuh kaki, anak anjing tersebut memiliki dua buah kelamin (jantan), 1 kepala, 1 rongga dada, 2 rongga perut, dan 2 buah ekor.

Kedelapan anak anjing tersebut lahir pada tanggal 8 Februari lalu dalam kondisi prematur karena umur kehamilan masih kurang 5 hingga 6 hari untuk melahirkan. Pemilik membawa induk anjing tersebut dalam kondisi telah mengeluarkan cairan berwarna cokelat.

Pemeriksaan dengan menggunakan doppler kemudian dilakukan, tetapi tidak terdengar adanya suara jantung dari anak-anak anjing dalam kandungan. Pemeriksaan dengan foto rontgen juga tidak menunjukkan adanya fetus di dalam kandungan. Kemungkinan kandungannya telah penuh dengan cairan ketuban.

Operasi laparatomi dilakukan dan setelah rongga perut terbuka tampak uterus yang membesar berisi fetus. Satu per satu fetus yang dikeluarkan dan jumlahnya ada delapan ekor dan didapati salah satu di antaranya mengalami kelainan tersebut.

“Saat dikeluarkan, denyut jantung seluruh fetus ada, tetapi sangat lemah. Tidak ada yang menangis, maupun bergerak,” kata drh C Koesharjono. Selama satu jam, kedelapan fetus tersebut diusahakan dihidupkan dengan upaya resustasi, tetapi tidak berhasil dan kedelapan anak anjing tersebut mati.

“Kasus ini merupakan peristiwa langka. Tidak hanya dalam dunia kedokteran hewan di Indonesia, tetapi juga di dunia,” kata drh C Koesharyono yang telah berpraktik sejak tahun 1966 sebagai dokter hewan praktisi hewan kecil.

“Bisa jadi, kembar siam dempet ini akibat satu telur pecah menjadi dua, atau dua telur tumbuh bersama, ” lanjut drh C Koesharyono. Kasus ini, menurutnya, sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut, baik bagi dunia kedokteran hewan maupun bagi ilmu embriologi.

Atas izin pemilik anjing tersebut dan untuk kepentingan penelitian, saat ini, anak anjing berkaki tujuh tersebut diawetkan dalam cairan formalin 100 persen. Sejumlah mahasiswa kedokteran hewan dan dokter hewan, selama sepekan ini, bergantian datang ke klinik drh C Koesharyono untuk melihat anak anjing yang diawetkan tersebut.
Editor :
Robert Adhi Ksp


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: