Oleh: rioardi | Oktober 26, 2009

Asia Tenggara Korban Pertama

2INILAH.COM, Jakarta – Isu perubahan iklim semakin mengkhawatirkan. Namun, hal ini belum mendapat perhatian besar di Asia Tenggara. Padahal kawasan ini akan terimbas dampaknya pertama kali.

“Efek negatif perubahan iklim yang pertama kali muncul, akan dirasakan di Asia Tenggara dalam kurun waktu lima tahun ke depan,” ujar Dubes Inggris untuk Indonesia , Martin Hatfull di Kedubes Inggris, Jakarta , Jumat (23/10).

Menurutnya, efek negatif dari perubahan iklim itu terlihat dari peningkatan level air laut sebanyak kurang lebih 80 cm. “Ini berarti, lebih dari 33 juta orang di kawasan ini akan mengalami banjir, sedangkan ekosistem laut terganggu karena terumbu karang dan daerah perikanan komersil hilang,” katanya.

Berdasarkan riset Bank Pembangunan Asia (ADB), Asia Tenggara merupakan kawasan yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Hal ini disebabkan garis pantai yang panjang, tingkat konsentrasi populasi yang tinggi, aktivitas ekonomi di daerah pesisir, serta ketergantungan terhadap pertanian, sumber daya alam, dan kehutanan.

“Perubahan iklim bahkan telah mempengaruhi kawasan ini. Terbukti dari meningkatnya frekuensi dan intensitas cuaca ekstrim, seperti gelombang panas, banjir, badai tropis, dalam sepuluh tahun terakhir,” ungkap laporan ADB yang bertajuk ‘The Economics of Climate Change in Southest Asia: A Regional Review’, yang dilansir April lalu.

Sedangkan di bawah skenario emisi tinggi, suhu rata-rata di empat negara, yaitu Indonesia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, diproyeksikan meningkat 4,8 derajat Celcius pada 2100, dibandingkan 1990. Level rata-rata laut juga meningkat 70-80 cm. Akibatnya, Indonesia, Thailand, dan Vietnam pada 20-30 mendatang akan sering didera musim kering.

Kerugian tersebut juga dirasakan secara ekonomi, karena dampaknya pada pasar yang disertai resiko katastrofi. Jika dihitung, maka pada 2100, seluruh negara tersebut akan kehilangan 6,7% PDB atau dua kali rata-rata kerugian global.

Beberapa negara kini giat mencapai kesepakatan mengurangi imbas negatif perubahan iklim, terutama menjelang perundingan internasional perubahan iklim pada 2 Desember mendatang di Copenhagen, Denmark .

Mereka memberlakukan pembatasan, dengan mempertahankan kenaikan rata-rata suhu bumi sebanyak 2 derajat Celcius. Karena peningkatan suhu yang lebih besar, akan memberikan dampak luar biasa pada dunia.

Kondisi ini tergambar dalam peta iklim, yang diperkenalkan pemerintah Inggris di Museum Ilmu Pengetahuan oleh Menlu David Miliband dan Meneg Urusan Energi dan Perubahan Iklim Ed Miliband, bersama Kepala Ilmuwan Inggris, Profesor John Beddington.

Dubes Hatfull pun telah memperkenalkan peta ini di Kedubes Inggris, Jakarta pekan lalu. Peta itu menunjukkan dampak yang timbul, jika dunia gagal mencegah bahaya perubahan iklim.

Misalkan saja ada peningkatan rata-rata suhu 4 derajat. Maka, imbasnya tidak akan meluas secara merata di seluruh dunia. Daerah daratan akan lebih cepat panas dibandingkan lautan. Demikian pula daerah lintang tinggi, khususnya Kutub Utara akan mengalami peningkatan suhu lebih tinggi.

Suhu rata-rata di daratan akan menjadi 5,5 derajat di atas level pra-industri. Peta tersebut menggambarkan dampak negatifnya pada aktivitas manusia, seperti ketersediaan air, produktivitas pertanian, temperatur ekstrim dan kekeringan, serta risiko kebakaran hutan dan peningkatan tinggi air laut.

Hasil pertanian diperkirakan akan menurun, khususnya bagi tanaman pangan utama di semua wilayah produksi. Setengah dari gletser di pegunungan Himalaya akan berkurang signifikan pada 2050, sehingga 23% penduduk China kesulitan memperoleh air pada musim kemarau.

Kini, emisi gas rumah kaca terpantau sudah meningkat 3% per tahun dalam 17 tahun terakhir sejak Earth Summit 1992, atau saat pertama kalinya negara-negara sepakat mencegah dampak pemanasan global.

Jika tak diseriusi, climate change akan berimbas buruk bagi Asia Tenggara. Terutama kelangsungan pembangunan dan upaya pengurangan kemiskinan. Memerangi perubahan iklim memerlukan aksi yang cepat, dalam adaptasi dan mitigasi.

Di Indonesia, Presiden SBY telah mengumumkan akan memangkas emisi gas rumah kaca hingga lebih dari 25% dalam KTT G20 di Pittsburgh, AS, akhir September lalu. Langkah ini sangat baik, mengingat Indonesia dituding sebagai salah satu negara perusak hutan terbesar dunia.

Emisi gas rumah kaca RI menempati peringkat ketiga terbesar dunia, setelah AS dan China. SBY berjanji akan mengurangi emisi tersebut hingga 26% per 2020. Ia yakin, dengan dukungan internasional, Indonesia mampu mengurangi hingga 41%. “Target ini bisa tercapai, karena emisi gas rumah kaca kami dari isu kehutanan seperti kebakaran hutan dan deforestasi,” ujar SBY. [ast/mdr]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: