Oleh: rioardi | Maret 30, 2009

Dicari Reporter Hijau (Green Reporter Indonesia)

20090329172204KabarIndonesia – Bumi kini sedang menangis sedih. Tetumbuhan tengah dilanda lara-lapa yang sangat, akibat tertimpuk oleh gergaji dan kampak-kampak yang tak kenal ampun. Air dan tanahnya juga sedang termehek-mehek menahan lukanya yang terlalu amat, akibat terkooptasi oleh berbagai limbah yang mematikan mereka. Global warming, benar-benar menjadi ancaman yang sedang melilit denyut nadi keselamatan bumi dan lingkungan hidup ini.

Semata-mata demi usaha maksimal penyelamatan dunia dari ancaman global warming lengkap dengan musibah-musibah yang menyertainya akibat kerusakan lingkungan hidup yang mengakut dan kronis; jelaslah dibutuhkan kesadaran kolektif dari kita semua. Langkah jitu pertama, yakni menstimulusi agar setiap orang bisa menjadi “WargaHijau”—yakni orang-orang yang peduli (cinta, tresno, love, hubb, libbe) pada upaya-upaya pelestarian alam dan lingkungan hidup. Pada tataran selanjutnya diperlukan para juru warta, penulis, inspirator yang kuasa memercik-percikkan informasi tentang urgensitas pelestarian lingkungan hidup di tengah masyarakat. Maka kehadiran “Pewarta Hijau (Green Reporter)” menjadi perkara paling substantif yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Memang, upaya-upaya penyelamatan lingkungan hidup tak harus perlu dimulai via langkah-langkah yang membutuhkan biaya finansial tinggi. Langkah-langkah kecil, taktis tetapi secara terus-menerus digencarkan, misalnya seorang petani yang rajin menanam satu tanaman setiap minggu sekali, termasuk juga langkah cerdas. Memelihara kelinci untuk memakan sampah-sampah (limbah) organik di rumah tangga kita serta membuat lubang sampah pada tanah, memakai air (hidrogen monoksida) seirit mungkin, dan masih banyak lagi—pun termasuk dalam usaha-usaha melestarikan lingkungan hidup.

Dapat dikatakan, saat ini—bulatan pejal tanah liat raksasa bernama bumi yang kini dihuni hampir 7 miliar manusia lengkap dengan multispesies fauna dan jenis-jenis tumbuhan, tengah berada di ujung pintu gerbang “big bang” mesin penghancur batu. Kalau kita rajin membaca-baca berbagai jurnal ilmiah atau minimal tekun mengudap-udapi media cetak dan elektronik, ternyata kerusakan lingkungan di jagat raya ini kian parah. Bulu kuduk kita dijamin seribu persen bisa dibuat berlari-lari ke sana kemari pascatahu ancaman “kiamat” segera datang akibat ulah kerakusan tabiat umat manusia sendiri. Sebab nasib bumi sedang dalam status “gawat darurat” alias dinyatakan “Save Our ‘SOS’ Soul”.

Detik-detik ini pula, para pemimpin negeri berpenghuni 230 juta ini masih minim yang peduli pada kelestarian lingkungan hidup. Para pengusaha, konglomerat juga bisa dihitung dengan jempol berapa banyak yang peduli pada kelestarian alam. Artinya, sementara ini kita tak bisa menggantungkan dua ratus, tiga ratus persen akan nasib perbaikan dan kelestarian lingkungan hidup hanya kepada kaum konglomerat dan pemimpin negeri ini. Toh, mereka mayoritas tidak banyak peduli. Itu cuma jadi bahan retorika yang terus utopis.

Dengan demikian, amat dibutuhkan kesadaran mutlak kita (umat/rakyat) sendiri—yang jumlahnya lebih mendominasi untuk melakukan gerakan swadaya nan terstruktur untuk mencari solusi cerdas atas kerusakan lingkungan hidup itu. Para petani yang amat melekat dengan kehidupan alam, yang jumlahnya jutaan orang itu bisa segera diberdayakan (bukan malah diperdayai) untuk melakukan gerakan massal peduli nasib lingkungan. Pedagang, pelajar, mahasiswa dan buruh pabrik juga perlu diprovokasi agar segera sadar lingkungan hidup.

Serupa dengan itu; para nelayan, polisi, tukang parkir, karyawan swasta dan profesi lain yang tak tercatat dalam peta pekerjaan formal—bisa memprakarasai munculnya kesadaran kolektif untuk peduli pada alam, hewan, tumbuhan dan kelestarian bumi ini. Penting pula membangunkan kepedulian dan partisipasi para budayawan, sineas, aktor/aktris, penulis, jurnalis, tokoh agama dan pejabat selalu mendahulukan kelestarian lingkungan hidup.

Guna menumbuhkan kesadaran dalam melestarikan lingkungan hidup itulah, maka Yayasan Peduli Hutan “YPHL” Lestari secara terbuka mengajak Anda tanpa mengenal batasan usia, perbedaan SARA, gender dan ras serta bahasa, bangsa—untuk bergabung bersama secara sukarelawan sebagai Pewarta Hijau (Green Reporter Indonesia) dalam lingkup komunitas “WargaHijau (Green Citizen Indonesia)”.

Bagi Anda yang tertarik, silahkan mengirimkan Curriculum Vitae ke alamat email: reporter@wargahijau.org (*)


Responses

  1. Wah saya boleh mendaftar gak nih..tapi ini sifatnya freelance ya mas..di sekolah kami banyak sekali aktivitas-aktivitas yang berkaitan dengan lingkungan hidup..paling lambat kapan nih CVnya dikirim?

  2. pengen, tapi gak punya basic sama sekali😀

  3. Thanks infonya.

  4. saya sangat setuju.bumi sedang dipuncak amarahnya dan akan bertambah lagi kalo kita sabagai mpenguninya tidak merespon kemarahan bumi.bertindaklah sebelum terlambat…

  5. Nggak ada Rupiahnya Boss…..??????


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: