Oleh: rioardi | Maret 22, 2009

Olah Sampah Organik, Lingkungan Sehat Penghasilan Meningkat

MESKI orang desa, masyarakat Kampung Wargaluyu, Desa Nagrak, Kecamatan Cianjur, sangat peduli pada sampah, bahkan mengolahnya. Setiap rumah yang ada di kanan kiri sepanjang jalan desa selebar 2 meter terdapat 2 tong sampah besar. Setiap tong tertulis Sampah Organik dan Sampah Non-Organik.

Jarak antara bibir aspal dan sungai yang hanya berjarak sekitar 50 sentimeter ditanami bunga-bungaan, sirih, dan pohon-pohon rindang seperti bungur. Sungguh asri dan teduh. Belum lagi kalau kita melongok ke sungai, sungguh jauh dari kesan jorok, keruh, ataupun bau. “Apa yang Mas lihat ini belum lama, baru tiga tahun ini kok. Baru tahun 2006,” kata Seksi Organik dari Masyarakat Peduli Lingkungan (Mapeling) Ade Sobandi (46), Sabtu (21/3), ketika ditemui di sela-sela kunjungan warga RW 08 Kelurahan Petojo Utara ke Wargaluyu dalam rangka sharing pengalaman dalam pengelolaan lingkungan sehat.

Ade adalah salah satu dari enam penggagas dan pendiri Mapeling. Menurut Ade yang juga adalah Petugas Penyuluh Pertanian, tujuan utama Mapeling adalah supaya kampung ini bersih, hijau, sehat, dan mendapatkan air dengan mudah.
“Pokoknya supaya sadar akan kebersihan!” tegasnya.

Beberapa aktifitas yang telah dan akan dilakkukan untuk mencapai tujuan Mapeling itu adalah membuat lubang-lubang biopori untuk resapan air, pemilahan sampah organik dan anorganik, pembuatan dan penggunaan pupuk organik, kampanye cuci tangan memakai sabun, membersihkan sungai dan melakukan penghijauan di dalam kampung. “Saya lahir di sini, dan saya tahu bagaimana kampung ini dulu kumuh dan tidak sehat. Sungai keruh dan tidak ada sistem pengairan di rumah-rumah. Apalagi ketika sudah muncul plastik, sampah-sampah menumpuk di sungai,” kata Ade.

Sebagai seksi organik, Ade sedang menggiatkan pembuatan dan penggunaan pupuk organik. “Caranya, hampir setiap hari penduduk di kampung ini mengumpulkan sampai organik ke rumah saya,” ujar suami dari Ija Hadijah ini. Bentuknya bisa sisa makanan, buah-buah busuk, atau juga sisa sayur yang tidak dimasak. “Pengumpulan ini sangat mudah dilakukan karena setiap rumah sudah mempunyai tempat sampah terpisah, organik dan anorganik,” kata Ade.

Dari sampah-sampah tersebut, dibuatlah pupuk organik dalam bentuk padat mapun cair. Pupuk-pupuk ini dipakai penduduk untuk tanaman bunga-bunga dan sayuran di pelataran rumah dan tanaman padi di sawah. “Adalah mendesak untuk menggunakan pupuk organik setelah 35 tahun tanah dihajar oleh pupuk kimia,” seru Ade.

Dia mengenang kebijakan penggunaan pupuk kimia yang dilancarkan pemerintah Orde Baru itu hanya untuk mengejar swasembada beras. Padahal, kebijakan itu sangat merugikan rakyat karena tanah sekarang mati dan pembelian pupuk setiap tahun selalu naik.

“Jika fungsi tanah terus berkurang, maka padi mendapat nutrisinya langsung dari pupuk kimia. Kan sama saja kalau kita makan beras dari padi itu berarti kita makan racun,” kata bapak tiga anak ini.

Menurut Ade, dalam tiga tahun ini penduduk kampung Wargaluyu mencoba pupuk organik untuk padi. Proses ini harus pelan-pelan. “Kita tidak boleh langsung menyuruh masyarakat memakai pupuk organik dan tidak menggunakan pupuk kimia. Mereka akan kecewa dan tidak mau memakai pupuk organik karena hasilnya drop. Perlu ada tahapannya,” tutur Ade.

Tahapan yang Ade maksud adalah Pengolaan Tanaman secara Terpadu (PTT) dan System Rice Intensification (SRI). PTT adalah peggunaan pupuk dengan cara dicampur, pupuk kimia dan organik, sementara SRI sudah sepenuhnya memakai pupuk organik. “PTT berlangsung selama 6 kali musim. Dari musim ke musim secara bertahan pupuk kimianya dikurangi, sampai pada akhirnya diawal musim ketujuh kita akan tanam padi dengan pupuk organik secara keseluruhan,” kata Ade.

Soal hasil penen, Ade mengakui ada selisih satu ton antara padi yang dihasilkan dari PTT dan SRI. Menurutnya, kalau memakai PTT satu hektar bisa menghasilkan 9 ton, sementara SRI hanya menghasilkan 8 ton. “Tapi itu sepadan dengan penghasilan yang mereka terima,” kata Ade. Ia mengatakan, harga beras yang dihasilkan dari pemakaian pupuk kimia secara keseluruhan adalah Rp 4.500 per kg. Untuk beras hasil PTT dihargai Rp 5.000 per kg, dan yang terakhir dari SRI akan menghasilkan beras seharga Rp 7.000 per kg.

Siapa yang tidak mau kalau lingkungan sehat dan penghasilan meningkat?


Responses

  1. petani susah buat beralih ke pupuk organik cair

  2. SIGMA FOLLIAR PUPUK ORGANIK SUPER LENGKAP

    Kami Produsen dan Distributor pupuk cair organik dengan merek dagang SIGMA FOLLIAR yang telah terdaftar di Departemen Pertanian , Nomor Pendaftaran DEPTAN:575/PPI/PUPUK/VI. Nomor Hasil Lab. Badan Litbang Deptan: 436/2008. Nomor Lab.KAN: CL. VI. 2008. 0593.

    Latar belakang pendirian perusahaan ini adalah semakin berkurangnya kesuburan tanah secara fisik, kimia dan biologi akibat dari penggunaan pupuk kimia secara terus menerus dan melebihi dosis yang dianjurkan. Kelangkaan pupuk kimia dipasaran sehingga petani sulit untuk mendapatkannya.

    Pada beberapa tahun terakhir ini kita ketahui bahwa pupuk kimia menjadi kebutuhan bagi petani dalam bercocok tanam berbagai macam komoditas pertanian. Petani banyak menggunakan pupuk kimia ini tanpa sadar bahwa penggunaan pupuk kimia secara terus menerus akan menimbulkan dampak yang tidak baik bagi kesuburan tanah baik secara kimia, fisik dan biologi.

    Dampak penggunaan pupuk kimia pada kesuburan kimia tanah yaitu dengan penggunaan jenis pupuk kimia tertentu yang terus menerus tanpa memperhatikan kandungan kimia tanah maka akan terjadi penumpukan kadar kimia, sehingga keadaan kimia tanah tidak seimbang yang aka brakitat kurang baiknya pertumbuhan tanaman.

    Dampak penggunaan pupuk kimia pada keadaan fisik tanah adalah terjadinya penumpukan filer atau bahan campuran dari pupuk kimia, yang bila terjadi terus-menerus maka akan mengakibatkan tanah menjadi padat yang sehingga pertumbuhan akar tanaman akan sulit.

    Dampak penggunaan pupuk kimia bagi kesuburan biologi tanah adalah organisme yang ada didalam tanah menjadi tidak seimbang, sehingga penguraian bahan organik tanah tidak optimal. Penguraian bahan organik akan menghasilkan unsure hara mikro yang bermanfaat untuk menmbah nutrisi yang diperlukan tanaman.

    Selain dampak kimia, fisik dan biologi tanah dari penggunaan pupuk kimia yang dirasakan petani secara tidak langsung sebenarnya ada juga dampak lain yang dirasakan petani yaitu harga pupuk yang semakin mahal yang tentunya juga meningkatkan biaya produksi, sehingga memper kecil keuntungan yang diperoleh petani. Disamping harga yang mahal petani juga susah untuk membeli pupuk dipasaran. Akibat dari langkanya pupuk dipasaran akan menghambat pemberian pupuk sehingga tidak tepat waktu yang akan berakibat pada terhambatnya pertumbuhan tanaman.

    Adapun pupuk cair SIGMA FOLLIAR di hasilkan melalui proses penelitian yang panjang dengan menggunakan teknologi modern. Sehingga produk yang kami hasilkan merupakan produk yang berkualitas yang bermanfaat bagi petani untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan hasil pertanian sehingga keuntungan yang diperoleh petani dapat meningkat.

    Pupuk SIGMA FOLLIAR digunakan sebagai pengganti pupuk kimia yang biasa di aplikasikan pada tanaman. Cara penggunaan dari pupuk cair SIGMA FOLLIAR adalah dengan cara disemprotkan ke bagian batang tanaman dan permukaan daun bagian bawah secara merata

    Komposisi pupuk cair SIGMA terdiri dari unsur hara makro:

    N : 14,52 %
    P : 9,52 %
    K : 11,97 %

    Unsur hara mikro :

    C Organik : 4,78 %
    So4 : 0,78 %
    Na : 0,82 %
    Cl : 0,06 %
    Fe : 0,12 %
    Mg : 0,05 %
    Ca : 4,43 %
    Al : 0,07 %
    Pb : 0,005 ppm
    Co : 0,05 ppm
    Cu : 9,98 ppm
    Zn : 53,08 ppm
    Mn : 61,60 ppm
    Mo : 13,74 ppm
    Bo : 2,46 ppm

    Dengan kandungan yang ada selain berfungsi untuk memenuhi kebutuhan unsur hara yang piperlukan untuk pertumbuhan tanaman juga berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh yang berguna untuk merangsang peningkatan dan pertumbuhan tanaman. Dengan penggunaan pupuk SIGMA secara berkelanjutan kesuburan tanahpun akan berangsur meningkat menjadi lebih baik. Dan hasil komoditas pertanian akan meningkat.

    Jika dilihat dari segi ekonomi penggunaan pupuk SIGMA jauh lebih ekonomis dibandingkan dengan penggunaan pupuk kimia. 1 liter pupuk cair SIGMA setara dengan 100 Kg pupuk NPK. Dengan harga Rp. 90.000,- perliter.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: