Oleh: rioardi | Maret 22, 2009

Gawat, Krisis Air Sudah Genting

imagesSebanyak 2,5 miliar penduduk dunia saat ini tidak mempunyai akses ke air bersih. Penduduk yang mengalami ketiadaan akses ini diperkirakan akan meningkat menjadi 3,9 miliar jiwa pada 2030, sebagian besar hidup di Asia Timur dan Asia Selatan.

Kebutuhan air bersih memang terus meningkat seiring jumlah penduduk, saat ini dengan jumlah penduduk 6,75 miliar jiwa kebutuhan itu mencapai 64 miliar meter kubik air per tahun. Padahal jumlah penduduk dunia diperkirakan mencapai 9 miliar pada 2050.

Secara global, krisis air saat ini sudah masuk pada tahap genting, di mana satu dari empat orang di dunia kekurangan air minum dan satu dari tiga orang tidak mendapat sarana sanitasi yang layak.

Deklarasi “Millenium Development Goals” (MDG’s) yang telah diratifikasi Indonesia mengharuskan pengurangan separuh proporsi penduduk yang belum memiliki akses ke air minum pada 2015.

Karena itu pemerintah mencanangkan target pelayanan air minum di perkotaan 66 persen dan perdesaan 30 persen dari yang saat ini baru mencapai 45 persen di perkotaan, 10 persen di perdesaan, dan nasional 24 persen. Ini tertuang dalam Perpres No.7/2005 tentang RPJMN 2004-2009.

Namun target pemerintah memasang 10 juta sambungan air bersih hingga 2013 dianggap terlalu ambisius karena selama 30 tahun terakhir, sambungan yang ada hanya sekitar tujuh juta sambungan. Kondisi itu diperparah dengan banyaknya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang berstatus kurang sehat dan sakit.

Andalkan Sungai

Peneliti Utama Bidang Hidrologi dan Konservasi Tanah, BPPT Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, target pemerintah tersebut sulit dicapai karena PDAM yang ada mengandalkan air baku dari air sungai. Sementara itu, saat ini sungai-sungai di Indonesia sudah mengalami degradasi yang semakin akut.

Ia mencontohkan, selama 30 tahun terakhir, tren debit Sungai Bengawan Solo terus menurun secara signfikan hingga 44,18 meter kubik per tahun demikian juga berbagai sungai lainnya di Jawa.

“Bagaimana mau berhasil menyediakan air bersih sesuai target yang telah dicanangkan jika airnya saja tidak ada, sebab substansi dari kebijakan penyediaan 10 juta sambungan baru air bersih adalah distribusi air,” katanya.

Ditambah lagi kebutuhan akan air di sektor lainnya seperti untuk irigasi pertanian, industri, PLTA, sampai perikanan yang memunculkan konflik dalam pemenuhan masing-masing jenis kebutuhan tersebut.

Menurut dia, secara nasional, sebenarnya ketersediaan air masih mencukupi, bahkan sampai dengan proyeksi tahun 2020.

Ketersediaan air secara alamiah yakni dari total aliran sungai di Indonesia selama setahun mencapai 1.957.205 juta m3 sementara kebutuhan total pada tahun 2020 diproyeksikan mencapai 127.707 juta m3, dengan demikian maka secara nasional terjadi surplus.

“Namun jika dilihat per pulau, ketersediaan air khususnya di Pulau Jawa, Bali dan Nusa Tenggara sungguh memprihatinkan. Surplus air hanya terjadi pada musim hujan dengan durasi sekitar lima bulan sedangkan pada musim kemarau telah terjadi defisit untuk selama tujuh bulan,” katanya.

Pulau Jawa pada tahun 1930 masih mampu memasok 4.700 meter kubik air per kapita per tahun, tapi saat ini total potensinya sudah tinggal sepertiganya (1.500 meter kubik), dan pada 2020 total potensinya tinggal 1.200 meter kubik.

“Dari potensi alami ini, hanya 35 persen yang layak secara ekonomis untuk dikelola. Maka potensi nyatanya tinggal 400 meter kubik per kapita, jauh di bawah angka minimum PBB yang 1.100 meter kubik per kapita,” katanya.

Itulah mengapa, dalam peta wilayah krisis air di bumi 2025, terbitan International Water Management Institute, Jawa dan beberapa pulau lainnya sudah masuk wilayah krisis, tambahnya.

PDAM di Indonesia, lanjut dia, sebagian besar mengambil air dari air permukaan atau air sungai yang kondisinya semakin terdegradasi, sehingga konsekuensinya memerlukan investasi pengolahan air bersih yang mahal.

Untuk mencapai target MDG’s tentang penyediaan air bersih itu, 320 anggota Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (Perpamsi) memperkirakan membutuhkan dana untuk investasi pembangunan instalasi pengolahan air dan jaringan distribusi air sebesar Rp10 triliun per tahun hingga 2015 mendatang, belum termasuk bahan kimia untuk penyediaan air baku.

Untuk mengatasi mahalnya peningkatan kualitas air ini, salah satu teknologi yang perlu dikembangkan adalah “natural treatment plant”, mengambil air langsung dari akuifer di dalam tanah dan mendistribusikan ke hilir. Konsep ini banyak diterapkan oleh pengelola air bersih di Jerman, ujarnya.

Konsep ini, urainya, sangat sesuai untuk Indonesia yang kaya dengan topografi pegunungan dan gunung api dengan pasokan air hujan yang melimpah.

Ia mengatakan, pegunungan dan gunung api merupakan menara air (reservoar) yang menangkap air hujan dan menyimpannya ke dalam akuifer, air tersebut keluar pada pertemuan antara lereng gunung dan kaki gunung dalam bentuk mata air


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: