Oleh: rioardi | Maret 6, 2009

Habitat Buruk, Harimau Jadi Agresif

meongMerosotnya kualitas habitat harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) memicu agresivitas kucing besar itu, termasuk memangsa manusia. Kualitas habitat terkait dengan kondisi minimal yang dibutuhkan satwa untuk berkembang biak secara alami.

Kualitas habitat itu di antaranya biomassa daya dukung pangan di alam dan ketersediaan tutupan lahan yang nyaman. ”Bukan hanya faktor menyempitnya habitat alami,” kata mantan Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati (KKH) Departemen Kehutanan Widodo Sukohadi Ramono dihubungi di Bogor, Jawa Barat, Kamis (5/3).

Hingga kemarin dilaporkan sembilan orang telah dimangsa harimau sumatera ketika berada di dalam hutan. Kejadian itu terjadi hanya dalam kurun waktu kurang dari dua bulan.

Menurut mantan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) di Lampung itu, kejadian serupa telah terjadi puluhan tahun silam ketika ia masih bertugas di Sumatera bagian selatan. Namun, tidak dalam kurun waktu sesingkat kali ini.

”Pasti ada banyak faktor penyebab, bukan tunggal,” katanya. Meskipun masih butuh pembuktian, ia menduga pelakunya harimau yang sebelumnya pernah memangsa manusia.

Ketua Forum Harimau Hariyo T Wibisono menyoroti faktor berkurangnya mangsa utama harimau sumatera di alam. Rusa banyak diburu untuk dikonsumsi dagingnya, sedangkan babi hutan diburu karena alasan hama tanaman penduduk.

Di beberapa lokasi, babi hutan memakan padi, umbi-umbian, dan jagung, bahkan mengganggu kebun kelapa sawit. ”Ada pemerintah daerah yang sengaja menyewa pemburu profesional untuk menembak babi,” katanya. Tak sedikit warga yang menggunakan senjata rakitan untuk berburu, khususnya di Sumatera bagian selatan.

Yang lain memasang bentangan jaring dan melepaskan anjing pemburu mengejar babi hutan, dewasa atau anakan, masuk ke jaring. ”Itu umum di kawasan yang jadi kantong harimau sumatera,” kata Hariyo yang tesisnya membahas populasi harimau sumatera di Bukit Barisan Selatan dan penanganan kerusakan tanaman oleh babi.

Widodo menambahkan, faktor berkurangnya pangan di alam memengaruhi kuantitas kunjungan harimau di kawasan penduduk. Faktor lain adalah persaingan internal antara harimau muda dan tua.

”Saya menduga harimau tualah yang sering menyerang manusia. Yang tua tak selincah dulu lagi ketika mengejar mangsa,” katanya. Pendapat lain adalah harimau muda yang sering menyerang karena alasan mencari daerah kekuasaan.

Jangan asal menduga

Keduanya menyatakan, harimau yang ditangkap di kawasan yang pernah ada korban diterkam belum tentu harimau yang sama. Karakter harimau yang dinamis dengan daya jelajah dewasa 25 kilometer persegi menjadi pertimbangannya.

Beberapa kali terjadi harimau tertangkap, tetapi masih ada korban. “Sebenarnya bisa dilihat dari fesesnya, apakah pernah memangsa manusia,” kata Widodo.

Sembilan orang diterkam dalam kurun waktu lima pekan terbilang sering. Ini sekaligus menegaskan meningkatnya kuantitas ancaman manusia terhadap hidupan liar. (GSA)

kompas.com

Iklan

Responses

  1. Mari berbagi tempat, makan dan minum dengan satwa kebanggaan kita.
    Saudara saudara kita di Jawa, sedang pusing mencari jejaknya Hariamu Jawa.
    Saudara saudara kita di Bali, telah meratapi kepunahan Harimau Bali.
    Akankah kita akan sadar… Mari Berbagi…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: